Uncategorized

Kisah Para Penjaja Jasa Nikah Bawah Tangan

Agus adalah penyedia jasa nikah siri yang menjalankan usahanya di Bandung, Jawa Barat. Pria di ujung telepon itu merupakan calon klien yang mengaku sebagai seorang pengusaha.

Dia hendak menikahi calon istri mudanya yang merupakan mojang Kota Kembang, namun kesibukkannya yang mendera di Kalimantan tak memungkinkan si pengusaha menyiapkan persiapan pernikahan.

Agus mengaku sudah miliki kebiasaan bersama keinginan calon klien yang berharap agar persiapan nikahnya diatur oleh Agus. Mereka umumnya datang berasal dari kalangan pejabat atau pengusaha yang tidak punya banyak selagi untuk mengurusi detil persiapan nikah.

Dalam satu bulan, Agus mengaku sanggup menikahkan hingga mencapai 10 pasangan. Masa pergantian akhir th. tempo hari jadi pekan tersibuk bagi Agus. Dalam satu pekan, Agus menikahkan delapan pasangan secara berturut-turut.

Ketika itu, Agus terpaksa bolak-balik ke luar kota lantaran wilayah klien yang hendak menikah berbeda-beda. Kala itu Agus bolak-balik kota Bogor, Bekasi, Jakarta, dan Bandung. “Saya bahkan th. baruan di Puncak, Bogor,karena tersedia pasangan yang minta dinikahkan malam itu juga,” ujar Agus.

Agus mengatakan, area menikah sanggup dilaksanakan di mana saja. Jika mendesak dan menginginkan cepat, calon mempelai umumnya bakal disuruh Agus untuk datang ke “kantornya” yang termasuk dijadikan sebagai etalase untuk menjajakan buku-buku berharga miring.

Agus termasuk menerima panggilan sesuai wilayah yang diinginkan oleh para calon pelanggannya. “Biasanya saya menikahkan pasangan di kamar hotel. Tapi baiknya di rumah makan, jadi selesai menikah sanggup langsung makan-makan,” ujar Agus setengah berkelakar.

Meski mendorong pasangan agar langsung menikah dan menghindari zina, tak seluruh klien dinikahkan oleh Agus. Bagaimanapun, Agus selalu memilah dan memberikan pertimbangan terhadap para calon klien yang datang kepadanya.

Agus bercerita, pernah tersedia mahasiswi berusia 26 th. yang menginginkan menikah bersama kekasihnya, seorang pemuda pengangguran yang usianya tiga th. lebih muda. Mereka tidak mendapat banyak modal untuk menikah tapi sudah tak sabar merajut hidup bersama didalam mahligai rumah tangga.
Ilustrasi buku nikah.

Mengetahui hal itu, Agus menentukan menunda pernikahan mereka. Agus berharap si calon suami agar terutama pernah punya pekerjaan, gara-gara kewajiban suami adalah menafkahi istri. Enam bulan lantas mereka datang kembali dan si calon pria mengaku sudah sanggup kerja. “Dari situ saya baru rela menikahkan mereka,” ujar Agus.

Lain kembali cerita bersama sepasang kekasih yang terpisah jarak ribuan kilometer. Kala itu calon pria terpaksa meninggalkan kekasih di kampung halamannya, Flores, karena sudah menentukan untuk mencari duwit di Kota Kembang.

Tak punya duwit untuk pulang, si pria asal Flores itu ketar-ketir menanggapi desakan kekasihnya yang sudah tak sabar menginginkan dinikahi. Si perempuan gelisah pacarnya kepincut perempuan lain di tanah orang.

Agus punya solusi. Pernikahan menurut Agus tidak perlu melibatkan kehadiran ke-2 mempelai. Maka prosesi sakral itu pun digelar lewat sambungan telepon. “Ketika mempelai perempuan itu mengiyakan kesanggupan untuk dinikahi mempelai pria, pernikahan pun sah,” ujar Agus.

Metode itu pula yang sempat di tawarkan oleh Agus kepada calon kliennya yang dirundung aktivitas di Kalimantan. Namun pengusaha kaya raya itu menentukan agar Agus mempersiapkan segala urusan pernikahan. Demi obyek yang menurutnya mulia, Agus tak berkeberatan. Sebab, kata Agus, “Daripada zina, lebih baik menikah.

 

Similar Posts